Arus globalisasi merupakan fenomena menarik yang sedang terjadi dalam kehidupan
masyarakat dewasa ini. Budaya global dan gaya hidup (life style) merupakan dampak paling
kentara akibat fenomena ini. Globalisasi sendiri diartikan sebagai proses mendunianya seluruh
kehidupan sosial, ekonomi, politik hingga budaya antara satu negara dengan negara lainnya
hingga seluruh dunia dinyatakan tidak memiliki ‘batas’ alias borderless. Berita yang masuk
terkait permasalahan tiap negara dengan mudahnya tersebar melalui internet, media sosial,
maupun aplikasi berbasis internet lainnya dalam satu perangkat yang disebut gadget. Hal tersebut
terjadi pada generasi muda Indonesia saat ini disebut sebagai generasi gadget atau yang sering
kita kenal sebagai generasi milenial.
Rata – rata di antara kalangan remaja Indonesia telah mengenal dan menggunakan internet dalam
keseharian mereka. Namun kebanyakan dari mereka belum mampu untuk memilah antara
aktivitas internet yang bersifat posistif dan negatif, serta cenderung mudah terpengaruh oleh
lingkungan sosial mereka dalam penggunaannya.
Inilah yang mejadi keluhan masyarakat akhir – akhir ini. Generasi muda bangsa yang seharusnya
menjadi tokoh dibalik kemajuan bangsa justru muncul dengan perilaku kesehariannya yang
mengesampingkan etika dan moral. Waktu demi waktu terus berlalu, namun dampak yang
ditimbulkan arus globalisasi kian marak dalam budaya anak muda saat ini. Sebagian besar
masayarakat khususnya anak muda telah terpengaruh oleh budaya barat yang dijadikan sebagai
‘kiblat’ setiap perilaku mereka, sehingga hilanglah sudah identitas dan jati diri mereka sebagai
Bangsa Indonesia. Berkaca dari permasalahan yang terjadi, maka sudah seharusnya dilakukan
upaya-upaya yang dapat membangun karakter bangsa khususnya dalam hal budaya di Era
Milenial ini.
Generasi Millennial Potensi dan Tantangannya
Millennial, demikian istilah yang gatuk dengan generasi anak yang lahir dalam rentan tahun
1980-an hingga 2000-an. Istilah yang popular menggantikan istilah generasi Y (Gen Y). Ya,
merekalah generasi muda masa kini yang berada pada usia 15-34 tahun.
Tumbuh dan berkembang di era perkembangan teknologi dan komunikasi tentu saja menjadikan
anak-anak muda ini mengalami transformasi karakter, gaya hidup, dan identitas diri yang unik.
Pew Research Center menyebutkan bahwa ada karakter yang sangat mencolok dari generasi
millinneal jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya, yakni kehidupan mereka
yang tidak dapat dilepaskan dari penggunaan teknologi dan budaya pop.
Menengok dalam negeri, saat ini di Indonesia ada sekitar 34,45% jumlah penduduk yang
tergolong generasi millineal. Tidak jauh berbeda dengan masyarakat dunia pada umumnya,
karakteristik generasi millinneal di Indonesia juga menunjukan geliat yang sama akan
penggunaan teknologi dan budaya pop. Tentu saja, jika dibandingkan dengan karakteristik
generasi sebelumnya hal ini telah menunjukan adanya perubahan yang mendasar.
Perkembangan teknologi dan informasi dianggap menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan
dengan kehidupan generasi millinneal. Bahkan, bisa dikatakan alat-alat high technology telah
menjadi bagian pokok dari kehidupannya. Misal saja, banyak kita temui dimana seseorang yang
akan berpergian dan kemudian lupa membawa HP, kira-kira apa yang akan mereka lakukan?
Tentu saja, banyak yang akan kembali untuk mengambil HP tersebut. Adapula, seseorang yang
kemudian ‘galau’ jika tidak update status di sosial media, dan tentu saja masih banyak contoh
lainnya.
Tidak sebatas itu, generasi millinneal juga kebanyakan menggandalkan kecepatan yang serba
instan, sehingga real time menjadi prasyarat utama bagi generasi ini. Bukan tanpa masalah, jika
ini terus menerus terjadi maka yang akan terjadi adalah banyak anak muda yang cuek terhadap
kehidupan sosial. Bahkan, hal ini akan bertendensi pada pembentukan karakter anak yang kurang
menyukai komunikasi verbal langsung, bersikap individualis dan egosentris, ingin hasil yang
instan, serba mudah, serta tidak mampu menghargai proses.
Melihat kondisi demikian memang tidak serta merta perkembangan generasi millinneal identik
dengan sifat karakteristik negative. Sifatnya yang multifaset memang menjadikan sebagian orang
berbeda-beda dalam merespon perkembangan generasi millennial.
Dalam dunia pendidikan sendiri, perkembangan generasi millineal saat ini tengah memasuki
pendidikan menengah atas dan tinggi. Namun, implikasinya benar-benar sangat terasa dimana,
banyak guru yang kemudian merasa ‘galau’ dalam menanggapi perkembangan generasi yang
satu ini. Disatu sisi banyak guru yang menginginkan anak didiknya tidak gagap teknologi,
namun sisi lainnya mereka juga tidak menghendaki perkembangan teknologi disalahgunakan.
Selain itu, disatu sisi banyak guru menginginkan anak didiknya memahami berbagai fenomena
yang kompleks dan dinamis dalam masyarakat. Namun, disatu sisi anak lebih menyukai hal-hal
yang aplikatif dan menyenangkan yang bersifat modern.
Tentu saja, masih banyak hal-hal lain dalam kondisi factual yang perlu dipertimbangkan sebagai
seorang guru selaku pendidik dalam proses pendidikan generasi millinneal yang mulai meranjak
pada kehidupan dewasa ini. Yang jelas dari pertimbangan-pertimbangan tersebut intinya
bermuara pada pelayanan pendidikan yang cocok dan tepat untuk memberdayakan dan
membudayakan generasi millinneal menjadi pribadi dengan karakter yang kuat.
Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini bisa dikatakan kian kompleks. Kenapa begitu?
Kerena kemudahan akses informasi yang ditopang internet dan media sosial ibarat dua sisi mata
uang. Di satu sisi bisa menumbuhkan iklim kreatif dan semakin luasnya pengetahuan, tapi di sisi
lain, berpotensi menyebabkan dekadensi moral dan spiritual.
Untuk mengantisipasi hal yang disebut terakhir, peran orangtua dan guru sebagai pengawas dan
pengarah agar generasi muda menggunakan internet sebagaimana mestinya saja belum cukup.
Lebih dari itu, dibutuhkan revitalisasi elemen-elemen pendidikan yang mampu menangkal dan
menyaring pengaruh buruk yang berpotensi masuk ke dalam diri generasi muda. Elemen-elemen
tersebut antara lain.
Kemajuan sebuah bangsa sering diukur dengan seberapa canggih bangsa tersebut, baik itu dalam
mengadopsi maupun mencipta sebuah teknologi. Dalam hal ini sebut saja Jerman, Jepang,
Amerika Serikat, dan Tiongkok yang merupakan bangsa-bangsa penemu teknologi canggih.
Seakan-akan mencipta sesuatu yang baru atau inovasi sudah mendarah daging di dalam diri
masyarakatnya.
Karena itu, agar generasi muda Indonesia bisa bersaing dan berkontribusi besar di kancah global,
sudah semestinya pengetahuan teknologi yang terkait perkembangan teknologi terkini menjadi
kurikulum tersendiri di sekolah. Tujuannya, untuk membangun generasi muda Indonesia yang
techy, berjiwa invention dan inovatif.
Banyak cara yang dapat dilakukan oleh para pendidik untuk membentuk karakter dengan sarana
teknologi informasi. Pada teknologi informasi, keterbukaan informasi dan privasi sudah hal yang
lumrah, dengan keterbukaan tersebut para pendidik dapat mengetahui masalah-masalah yang
dialami oleh milenialis.
Jika setiap pendidik melek teknologi terkini, maka kita dapat mengontrol milenialis terlepas dari
ruang dan waktu.
Dapat di simpulkan bahwasannya untuk membangun karakter siswa di era milenial ini ada
beberapa upaya, termasuk juga peran guru atau pendidik sangatlah penting pada masalah ini
karena apa? Guru adalah suatu contoh penting yang dapat membantu dalam merubah bahkan
membentuk karakter seorang anak didik. Jika seorang guru cara menyampaikan materi atau
bahan ajar dengan benar kepada muridnya maka murid itu juga akan benar dalam
menangkapnya. Dan apabila seorang guru salah dalam menyampaikan maka sebaliknya.
https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://m.tribunnews.com/amp/tribunners/
2018/05/27/membangun-karakter-bangsa-di-era-
milenial&ved=2ahUKEwjnmPaO37DeAhWPfSsKHXSwC7AQFjAAegQIAhAB&usg=AOvVaw3piC3bTxpNH5
mrYNKlqWfD&cf=1




